Riwayat hidup
Syekh Abdul Qadir Bin Sabir Afandi Mandily
1934 - 1863
M ( 1352 – 1280 H)
Bahwa Syekh Abdul Qadir bin Sabr Afandi Mandily adalah ulama terkemuka di Makkah Al Mukaromah yang ikut memberikan andil dalam ilmu dan pengalamannya dalam pendidikan dan menaikkan standar pendidikan tersebut di Masjidil Harom. Sedangkan pada waktu itu standar bahasa Arab memprihatikan baik itu metode , caranya dan kefasihannya, dimana kantor-kantor, surat-surat resmi bercampur aduk dimasuki kalimat-kalimat bahasa turki. Yang menyebabkan jeleknya susunan (ta’bir) bahasa arab pada masa itu.
Pada sekitar tahun 1221 H di makkah yang
berwajib telah menyusun metode pendidikan dan pengajaran di masjidil harom dan
memilim 15 orang ulama yang berbobot dan terkemuka untuk melaksanakan tugas
mendidik dan mengajar dalam rangka meningkatkan standar bidang ilmu pengetahuan.
Diantara 15 orang ulama yang terpilih tersebut termasuk Syekh Abdul Qadir bin
Sabir Afandi Mandili adalah yang terhormat:
1. Asad
bin ahmad addakhan.
2. Muhammad
bin abdur rahman abu husain al-marzuki.
3. Muhammad
murod al-ghozani.
4. Umar
bin abu bakar ba janaid.
5. Said
bin Muhammad al-yamin.
6. Abdul
qadir mandily (Mandailing).
7. Abas
bin abdul aziz al-maliki.
8. Muhammad
amin bin muhammad ali mirdad.
9. Muhammad
jamal bin muhammad al-amin al-maliki.
1 Muhammad
ali bin husain al-maliki.
11. Abdul
karim addaghastani.
12. Salih
bin muhammad ba fadhal.
13. Muhammad
ahmad hamid.
14. Abu
bakar khufeir.
15. Ahmad
abdul latif khatib.
Bahwa jika kita amati disini. Syekh
abdul qadir sabir afandi mandily adalah urutan yang ke 6 dari 15 ulama yang
terpilih tersebut , yang terdapat dalam buku yang berjudul Aththawalii Assaniah fi Mizani Attadrisil
jadid
fil Masjidil Harom – Makkah Al-Mukarramah tahun
1331 H. dalam 15 halaman yang terdiri dari 13 fasal yang dibagi 6 bagian yang
berkaitan dengan pengukuhan para pengajar.
Bahwa
Syekh Sabir Afandi Mandily ayah Syekh Abdul Qadir Mandily bermukim di Mekkah
pada tahun 1278 H. pada tahun 1282 H lahirlah anaknya yang pertama yaitu Syekh
Abdul Qadir Mandily, setelah
anaknya tersebut berumur empat tahun ayahnya membawa kembali pulang ke kampung
halamannya mandailing pulau sumatera disana masa kecilnya anak tersebut
berlajar membaca dan menulis dengan huruf arab, dan belajar rukun-rukun islam
pada ayahnya dan guru-guru fiqih lainnya. Sesudah Abdul Qadir mencapai umur 13
tahun ayahnya mengirimnya kembali ke Mekkah ( Tempat lahirnya) di temani
sebagian kaum kerabat yang pada waktu itu pergi melakukan ibadah Haji. Hal tersebut
terjadi pada tahun 1293 H.
Bahwa ayahnya telah membekalinya dengan
uang dan keperluan lainnya untuk bermukim di Mekkah tempat kelahirannya dengan
maksud menuntut ilmu. Sejak saat itu ia menetap di Mekkah dibawah asuhan
keluarga dari kerabatnya dengan maksud untuk menuntut ilmu. Maka setelah
menghapal al-quran ia mengatur waktunya belajar beberapa macam mata pelajaran
yang berkaitan dengan ilmu agama dan mengikuti pelajaran-pelajaran dibeberapa
tempat di Majidil Haram pada ulama-ulama termuka pada waktu itu. Setelah
berselang beberapa tahun, hatinya didorong terus semangat belajar, membaca dan
musyawarah serta mengadakan munafasyah dengan teman-temanya dalam memecahkan
masalah-masalah yang sulit yang sedang dihadapi mereka.
Teman-teman Syekh Abdul Qadir Mandily
adalah Syekh Umar Ba Junaid, Syekh Abdul Karim Addaghastani da Sykh Jamal Bin
Muhammad Al- Amir Al-Maliki serta yang lainnya. Akhirnya para teman tersebut
menjadi teman yang akrab, bersama-sama mengajar di Masjidil Haram pada masa
itu.
Diantara para guru beliau, adalah Syekh
Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Syekh Said Ba Busail, Syekh Assaid Husain bin
Muhammad Al Habsyi, dan juga Syekh Ahmad Zaini Dahlan dan lain-lainnya. Dan
juga sebagai tetangga yang sama-sama bertempat tinggal di Kampung Ajyad, dimana
sering terjadi ziarah menziarahi antara beliau dengan Syekh Abud bin Husian Al
Maliki, sedangkan di Madinah beliau sering menghadiri Majlis Taklim Sykeh
Al-Barjanzi dan Syekh Falih Azhari dan lain-lainnya.
Syekh Abdul Qadir Mandily mulai mengajar
di Masjidil Haram pada tahun 1317 H. Murid-muridnya membentuk lingkaran diatas
pasir sebagaimana biasanya pada waktu itu, bertempat diarah Bab Ummi Hani (bab
Al Hamidiah) di Masjidil Haram. Beliau mengajar pada waktu-waktu tertentu yaitu
setelah shalat Subuh, shalat Ashar dan Shalat Magrib. Mata pelajaran yang
diberikan adalah Fiqh Syafi’I, Usul Figh, Tafsir, Hadist, Nahu, Sorof,
Balaghah, dan kadang-kadang muridnya membacakan Ihya Ulumuddin, Kitabul Um dan
Jamul Juwami dalam Ushiul Fiqh. Tafsir Al Ghazin, Tafsir Jalalain, Sahih
Bukhari dan Muslim Lainnya.
Bahwa Syekh Abdul Qadir fasih dalam
berbicara, pelajaran yang disampaikan beliau mudah ditangkap dan dimengerti
dengan argumentasi yang kuat dan cara mengajarnya memuaskan terutama dalam
menerangkan masalah-masalah yang sedang dia ajarkan. Hal tersebut diterangkan
beberapa muridnya diantaranya:
1. Syekh
Mahmud Sylhabuddin yang juga pernah mengajar di Masjidil Haram pada tahun
puluhan (1350 H ).
2. Syekh
Mustofa Husin pendiri dan pemilik Madrasah Mustofawiyah di Purba Mandailing
yang sering dan tetap mengikuti Majlis Ta’lim beliau, sewaktu ia masih belajar
di Makkah
3. Al-
Ustaz Abdul Qahhar Muzakir mantan Rektor Al-jami’ah Al- Islamiyah Yogyakarta
yang pernah menjadi muridnya di Mekkah.
Adapun karangan-karangan beliau
dengan tulisannya kelihatannya tidak ada, namun anak yang paling sulung bernama
Syekh Muhammad Jafar bin Syekh Abdul Qadir mandily yang kembali ke Indonesia
pada tahun 1330 H. setelah menyelesaikan pelajarannya di Mekkah menerangkan
kepada teman-temannya bahwa ayahnya Syekh Abdul Qadir Mandily pernah menulis
kitab ilmu Musthalah Al hadits dengan nama Sullamul Hadits, tapi sangat
disesalkan tidak sempat dicetak, karena pada waktu itu anak tersebut tinggal di Mandailing Sumatera dan pula belum ada
cetakan dengan huruf Arab, akhirnya kitab tersebut itu terlupakan dan hilang,
dan Syekh Abdul Qadir Mandily pernah kembali ke Mandailing untuk ziarah pada
tahun 1340 H.
Pada tahun 1327 H
hujan turun lebat terjadi banjir sampai membanjiri Masjidil Haram termasuk
rumah tempat tinggal Syekh Abdul Qadir Sabir Mandili dalam musibah ini dua
orang putrinya meninggal dunia salah satu diantara mereka berumur lima tahun
sedangkan beliau dan isterinya serta sang putra dan putri yang sulung selamat
dari musibah tersebut.
Pada tahun 1341 H
beliau berada di Penang disana kena serangan stroke akibatnya tangan dan kaki
kirinya lemah, akan tetapi setelah 1 tahun kemudian beliau kembali sehat,
dimana beliau dapat berjalan dan dapat menggerakkan tangan kirinya. Sejak saat
itu beliau berhenti mengajar pada tahun 1343 H. Beliau kembali ke mekkah dan
tetap tinggal dirumah dan tidak keluar rumah kecuali, untuk sholat berjamaah di
masjidil Haram dengan bantuan anak-anaknya. Atas permohonan murid-muridnya agar
beliau kembali mengajar dan akhirnya beliau mengkhususkan waktu untuk mengajar
murid-muridnya dirumah
Pada waktu siang Dhuha hari
selasa tanggal 26 Rajab tahun 1352 H beliau kembali kepada Khaliknya Azza
Wajalla (Wafat), setelah sakit lebih dari 1 bulan. Almarhum wafat di rumah yang
dibeliknya pada tahun 1352 H. Di Mekkah yang terletak di kampung Ajyad Syarii
Al-Mathbaah yang terdahulu jenazah almarhum diberangkatkan pada waktu ashar ke
Masjidil Haram dan disholatkan oleh publik yang banyak dan di imami teman
dekatnya Syekh Umar bin Abu Bakar Ba Junaid dan ikut mensholatkan beliau
bersama ulama-ulama terkemuka.
Semasa hidup Syekh Abdul
Qadir Sabir Mandily Berda’wah melalui pendidikan dan pengajaran islam baik
dengan lisan ataupun perbuatan, baik di Mekkah maupun di Indonesia di pulau
Sumatera Utara. Keluarga Batak penduduk Tapanuli Sumatera Utara yang banyak
masuk Islam atas Usahanya.inilah foto putra dan putrinya syekh abdul qadir mandiri

Hai, saya punya foto Syekh Abdul Qadir Bin Sabir Afandi Mandily, tolong beri saya email, saya akan mengirimkan bantuan kepada Anda
BalasHapusini email saya kak icalrkt99@gmail.com, saya mau foto beliau untuk tugas saya di kampus
Hapus